Tulisan ini mengambil tema tarekat sebagai pranata dakwah Islam sufistik yang secara general ingin melacak siasat tarekat dalam menanamkan nilai-nilai moral keislaman pada masyarakat Nusantara terkait dengan pergumulan dan persaingan antartarekat tersebut dengan praktik-praktik mistik lokal-Kejawen. Untuk itu, permasalahan difokuskan pada strategi para da’i sufi dalam menyikapi realitas tradisi dan praktik ritual lokal Jawa; tentang cara mereka mempertahankan ortodoksi ajaran tarekat; serta tentang hasil dakwah dan pendidikan Islam sufistik-inklusif bagi pembentukan mental keberagamaan masyarakat Islam Jawa pada khsususnya? Kajian ini bersifat literer dengan mengambil data dari bahan-bahan kepustakaan yang diolah dengan teknik analisis diskursif. Hasilnya sebagai berkut; Pertama, bahwa Islam, disimping mengandung muatan ajaran eksoterik, adalah sangat lekat dengan nilai-nilai esoteris. Ajaran esoterisme Islam tersebut membekali Islam ketika berada di wilayah dakwah untuk dapat bersapaan dan berdialog dengan budaya lokal dengan damai. Kedua, tarekat-tarekat Islam di Jawa karena bersentuhan dengan tradisi dan budaya lokal yang intensnya, maka konsekuensinya adalah timbulnya variasi tarekat, yaitu, ada tarekat yang berupaya untuk mempertahankan ortodoksi baik dalam tataran teosofik maupun dalam teknik zikir, seperti Tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah; Namun demikian, ada juga tartekat yang kurang memperhatikan sisi ortodoksi tersebut, bahkan berpinjaman teknik dan terminologi dalam olah spiritualnya dengan teknik mistik Kejawen, misalnya, Tarekat Shiddiqiyyah; Ketiga, bahwa hasil dakwah dan pendidikan Islam sufistik-inklusif seperti di atas adalah tertanamnya sikap mental dan moralitas keberagamaan yang toleran bagi muslim Nusantara, pada umumnya, dan Muslim Jawa pada khususnya.
Copyrights © 2022