Dalam sejarah politik di Indonesia, pesantren dan kyai memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan arah dan tujuan bangsa. Selama lebih dari tigapuluh tahun di bawah Orde Baru, peranan pesantren dan kyai sangat dibatasi, namun otonomi daerah membuka kembali pintu bagi pesantren untuk kembali ke panggung politik. Studi ini menguraikan tentang dampak otonomi daerah terhadap pola hubungan kyai dan santri. Dengan menggunakan studi kasus di Kabupaten Jember, kajian ini menemukan adanya perubahan pola hubungan kyai-santri di komunitas pesantren yang ditandai dengan menurunnya kepatuhan dan respek masyarakat santri terhadap kyai dan pesantren. Studi ini menemukan tiga alasan: pertama, keterlibatan kyai dalam money politics; kedua, runtuhnya simbol kyai sebagai penegak moral, dan ketiga menurunnya peranan kyai dalam pembangunan masyarakat di sekitar pesantren.
Copyrights © 2014