Kasus pembunuhan Rusel yang merupakan salah satu tokoh adat Dayak Muara Kate Kabupaten Paser Kalimantan Timur mencuri perhatian dan memicu reaksi yang luar biasa dari semua kalangan khususnya masyarakat suku Dayak. Insiden ini berkaitan erat dengan aksi protes yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Muara Kate terhadap aktifitas jalan hauling yang meresahkan warga sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih detail fungsi serta makna dari mangkok merah dan kaitannya dengan insiden pembunuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang mengarah kepada jenis komunikasi massa yang menjadikan ritual sebagai media penyampai pesan. Penelitian ini juga menggunakan studi analisa semiotika Roland Barthes. Pengolahan data melalui tahap pengumpulan data, reduksi (pengelompokan), display (menampilkan), tahapan analisa dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangkok merah, sebagai ritual sakral, berfungsi sebagai alat komunikasi dalam masyarakat Dayak, simbol yang menghubungkan mereka dengan roh nenek moyang untuk menghadapi ancaman luar. Ritual ini memuat pesan simbolis, yang berhubungan dengan nilai budaya, filosofi, dan sejarah Dayak. Pembunuhan Rusel mengungkap ketegangan yang dapat memicu kekerasan jika penyelesaian masalah tidak ditemukan. Kesimpulannya, komunikasi non-verbal melalui simbol seperti mangkok merah dapat memiliki makna yang ambigu, dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan perkembangan teknologi. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya memahami simbol dalam konteks sosial dan budaya untuk meminimalkan konflik dalam masyarakat.
Copyrights © 2025