Masyarakat dapat terpelajar dengan berbagai cara. Salah satunya melalui bacaan karya sastra, seperti naskah drama. Imitasi kehidupan melalui kreativitas, dapat seseorang lakukan dalam sebuah karya. Problematika kerusakan alam menjadi topik yang tidak pernah kadaluwarsa. Karya sastra sebagai media untuk menyebarluaskan nilai-nilai dan moral baik dalam kehidupan. Salah satunya naskah drama Mata Air Mata (MAM) karya Laboratorium Teater Ciputat yang mengangkat isu lingkungan. Deseminasi pesan baik ini dapat dilakukan karena sebuah karya sejatinya kumpulan ketidaksadaran kolektif yang perlu ditelusuri petanda dari tokoh-tokoh yang dihadirkannya. Pada penelitian kali ini akan membahas ketidaksadaran kolektif berupa arketipe-arketipe; petanda/semiotik arketipe; dan ideologi tokoh dalam perspektif ekokritik; dalam naskah drama MAM. Pembatasan masalah dibuat hanya berfokus pada tokoh manusia di dalam naskah drama MAM yaitu tokoh Nyi Dara dan Tuamata; dan arketipe (ketidaksadaran kolektif) yang dominan. Metodologi penelitian menggunakan deskriptif kualitatif. Pembahasan akan menggunakan pendekatan ketidaksadaran kolektif Carl Gustav Jung dan semiotik Chales Sanders Peirce. Hasil penelitian menunjukan tokoh Tuamata didapati kemunculan; 7 kesadaran personal; 1 ketidaksadaran personal; ketidaksadaran kolektif berupa arketipe; 1 the lover; 12 the shadow; 3 anima/animus; 13 the wise old man; 2 the explorer; 5 the hero. Tokoh Nyi Dara didapati kemunculan; 2 kesadaran personal; ketidaksadaran kolektif berupa arketipe; 2 the cargiver; 21 the shadow; 5 anima/animus; 5 the mother; 9 the wise old man; 1 the explorer. Arketipe dominan dari tokoh Tuamata yaitu the wise old man menunjukan semiotik; 3 indeks; 2 ikon; dan menunjukan ideologi antroposentrisme. Arketipe dominan dari tokoh Nyi Dara yaitu the shadow menunjukan semiotik; 1 indeks; 2 ikon; dan menunjukan ideologi ekosentrisme.
Copyrights © 2024