JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA
Vol 3 No 1 (2025): Februari

KORELASI ANTARA ILMU FILSAFAT DAN BUDAYA ADAT BATAK TENTANG SISI POSITIF DARI PENGGALIAN DAN PEMINDAHAN TULANG-BELULANG ORANG MATI

Anton Sitorus (Unknown)



Article Info

Publish Date
13 Jan 2025

Abstract

Orang batak dikenal sebagai pemikir. Seorang filsuf Prancis yang bernama Descartes mengatakan, "Aku berpikir, maka aku ada". Hal ini bukan mau mengatakan bahwa orang batak mirip dengan orang Eropa mengenai cara berpikirnya. Penulis setuju bahwa apa yang dikatakan oleh Rene Deskartes adalah tepat. Keberadaan manusia itu masih ada ditandai dengan masih bekerjanya pikiran seseorang. Lebih lengkap lagi ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai suatu hal yang tetap eksistensinya di dunia individu. Sebuah ide akan muncul tentu karena seseorang itu berpikir. Merencanakan, bertindak, mengambil keputusan adalah buah dari berpikir. Sebut saja buah dari berpikir itu adalah konkretnya penggalian tulang belulang. Dikalangan orang batak penggalian tulang belulang dianggap hal yang biasa. Disamping hal yang biasa tentu karena ada beberapa sebab alasan harus dilakukan. Namun dikalangan masyarakat ada saja yang tidak setuju praktek itu dilakukan karena katanya mengandung mistis walaupun pada kenyataannya tidak semua begitu. Bagi sebagian orang juga, penggalian dan pemindahan tulang-belulang orang mati diyakini bahwa orang mati tetap akan memiliki kehidupan lain dan dapat berelasi dengan orang yang hidup. Sah-sah saja ada yang berpendapat demikian. Maka agar tidak terjadi kesalahpahaman yang demikian, ilmu Filsafat hadir guna menjembatani baik dalam menentukan kedudukan, hak dan kewajiban, maupun dalam mengatur sistem yang ada dalam hidup kita, sebab semuanya itu tidak terlepas dari bagaimana kita berpikir. Ilmu Filsafat membuka lebar-lebar pola pikir kita dalam mengambil keputusan yang tepat tanpa mengesampingkan nilai-nilai adat itu sendiri. Dengan kata lain juga bahwa penggalian tulang belulang merupakan buah pikir manusia itu sendiri untuk tujuan yang baik. Manusia yang berpikir berarti manusia yang mempunyai filosofi. Dengan sendirinya manusia yang mempunyai filosofi hidup, maka akan membentuk apa tujuan hidupnya. Jadi, akan lebih baik lagi bila penggalian tulang belulang itu dilakukan untuk tujuan yang baik, maka akan tampaklah disitu bahwa manusia itu benar-benar makhluk yang beradat dan berbudaya melalui filosofi-filosofi yang dimiliki orang batak. Filosofi itulah sebagai dasar bagi manusia untuk dipacu bertindak dengan tujuan yang jelas.

Copyrights © 2025






Journal Info

Abbrev

jipm

Publisher

Subject

Computer Science & IT Economics, Econometrics & Finance Languange, Linguistic, Communication & Media Library & Information Science Medicine & Pharmacology

Description

JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Merupakan platform publikasi jurnal Karya suatu hasil penelitian orisinil atau tinjauan Pustaka yang ditulis oleh mahasiswa. Ruang lingkup karya yang diterbitkan mencakup Multidisiplin Ilmu diantaranya yaitu: Ilmu Sosial Humaniora, Pertanian, Kesehatan, Peternakan, ...