Meskipun masa penjajahan Belanda di Indonesia telah resmi berakhir, penulis-penulis karya sastra pascakolonial sering kali kembali menggambarkan situasi tersebut dari berbagai perspektif, seperti yang terlihat dalam novel Hari Pelarian karya Yulia Sujarwo. Penggambaran situasi penjajahan ini memunculkan pertanyaan mengenai apakah wacana kolonial masih memiliki dampak terhadap pola pikir mereka yang pernah terjajah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana wacana kolonial tercermin dalam novel Hari Pelarian. Penelitian ini bersifat kualitatif dan menganalisis situasi sosial dalam novel yang menjadi ruang interaksi antara tokoh terjajah dan penjajah dengan menggunakan teori poskolonial Homi K. Bhabha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh pribumi, Sekar, yang berasal dari keluarga priyayi Jawa, menentang budaya dan tradisi masyarakat Jawa, khususnya pada strata masyarakat ningrat. Penolakan ini dipengaruhi oleh interaksi Sekar dengan tokoh penjajah, yang mengakibatkan internalisasi penuh wacana kolonial dalam dirinya.
Copyrights © 2025