This study aims to analyze the differences in students' interest in offline and online tutoring at the high school level and the factors influencing these preferences. In the rapidly evolving digital era, online tutoring has gained popularity, particularly after the COVID-19 pandemic, which necessitated a shift in learning methods. The research employs a quantitative approach with a comparative method, involving 35 students from SMA Negeri 15 Bandung as the sample. Data were collected through questionnaires and analyzed using descriptive statistical tests and an Independent Sample T-test.The results indicate a significant difference in students' interest in offline and online tutoring, with the average interest in offline tutoring being higher (17.63) compared to online tutoring (15.40). While students prefer offline tutoring due to direct interaction and deeper understanding, they tend to choose online tutoring for its flexibility in time and affordability. This study concludes that tutoring institutions need to develop hybrid programs that combine the advantages of both methods to meet students' needs in the digital era. These findings are expected to provide insights for tutoring institutions in designing more responsive programs that align with students' preferences. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan minat siswa terhadap bimbingan belajar offline dan online pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) serta faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi tersebut. Dalam era digital yang terus berkembang, bimbingan belajar online semakin diminati, terutama setelah pandemi COVID-19 yang memaksa perubahan metode pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan komparatif, melibatkan 35 siswa dari SMA Negeri 15 Bandung sebagai sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif dan Independent Sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam minat siswa terhadap bimbingan belajar offline dan online, dengan nilai rata-rata minat terhadap bimbingan offline lebih tinggi (17.63) dibandingkan dengan online (15.40). Meskipun siswa lebih memilih bimbingan offline karena interaksi langsung dan pemahaman yang lebih mendalam, mereka cenderung memilih bimbingan online karena fleksibilitas waktu dan biaya yang lebih terjangkau. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lembaga bimbingan belajar perlu mengembangkan program hybrid yang menggabungkan keunggulan kedua metode untuk memenuhi kebutuhan siswa di era digital. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi lembaga bimbingan belajar dalam merancang program yang lebih responsif terhadap preferensi siswa.
Copyrights © 2025