Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan komoditas unggulan di Pulau Bangka. Terdapat preferensi yang tinggi dari masyarakat untuk mengkonsumsi kepiting bakau, sehingga tidak sedikit rumah makan yang menyediakan menu kepiting di warung makan seafood di sekitar wilayah Pulau Bangka. Hal tersebut tentu saja menghasilkan banyak sisa cangkang yang dianggap limbah, tidak bermanfaat dan berakhir di tempat sampah. Valorisasi limbah cangkang kepiting, bisa dilakukan dengan transformasi limbah cangkang tersebut menjadi material memiliki nilai manfaat berupa kitin dan kitosan. Pada penelitian ini, 250 g cangkang rajungan akan diproses menjadi kitosan melalui deproteinasi (NaOH 3,5%), demineralisasi (HCl 1,5 M) dan deasetilasi (NaOH 15%) dengan waktu pemrosesan masing-masing 2 jam. Rendemen kitin yang dihasilkan yaitu 26%, sedangkan kitosan sebanyak 10,04 %. Berdasarkan perhitungan derajat deasetilasi (DD) kitin pada bilangan gelombang A1650/A3450 menghasilkan nilai 39,58 %, sedangkan kitosan 51,11 %. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan menggunakan NaOH dengan konsentrasi yang lebih pekat 60% pada saat proses deasetilasi untuk menghasilkan nilai DD yang lebih tinggi. Selain itu, penelitian lanjutan dapat menggunakan metode penetralan pH yang lebih cepat dan efisien. Analisis DD juga dapat dilakukan dengan metode sederhana, biaya terjangkau serta cepat memperoleh hasilnya secara kuantitatif dengan metode titrasi asam basa dengan methyl orange.
Copyrights © 2025