Stereotip pada masyarakat Indonesia sudah menjadi kiblat umum dalam tuntunan sosial. Laki-laki diharuskan berperilaku maskulin, begitu pun juga dengan perempuan yang harus berperilaku feminin. Namun, pada kenyataannya masih dijumpai laki-laki yang memiliki ciri-ciri lebih dominan dalam kewanitaannya atau yang dikenal dengan kefemininannya dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan laki-laki feminin justru suatu hal yang tidak diharapkan oleh masyarakat, sehingga muncul suatu penolakan berupa stigma atau diskriminasi atas transformasi pada identitas laki-laki feminin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses konstruksi sosial pada identitas transformasi laki-laki feminin. Adapun metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui teknik pengumpulan data dengan metode wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa informan yang merupakan seorang laki-laki dengan inisial FB lebih memilih untuk menjadi laki-laki feminin karena faktor eksternal, yaitu lingkungan pertemanan. Sehingga, lambat laun apa yang dilihat dan dilakukan oleh teman perempuannya melekat pada diri informan. Walaupun memang ada dampak positif dan negatif atas perubahan identitas informan, tetapi informan merasakan kepuasan dari perubahan tersebut
Copyrights © 2024