Seiring dengan peningkatan permintaan pemakaian energi listrik yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan populasi, keterbatasan penggunaan sumber daya energi di Indonesia menjadi masalah utama. Indonesia memiliki banyak sumber energi terbarukan yang tersedia, seperti surya, angin, air, dan bioenergi. Perancangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dapat menjadi solusi ideal untuk masa depan. PLTS menggunakan sel fotovoltaik untuk mengubah energi matahari menjadi listrik, sementara PLTB menggunakan angin sebagai sumber energi. Dengan mengumpulkan data mempelajari teori-teori yang bertujuan mempermudah dalam perancangan fisik alat (hardware) maupun perancangan perangkat lunak (software) dan setelahnya dilanjutkan untuk pengujian alat perancangan, pengambilan data beserta untuk analisa data yang sudah diperoleh. Sistem monitoring berbasis Internet of Things (IoT) diperlukan untuk memantau output pembangkit saat mengembangkan sistem pembangkit listrik hybrid PLTS dan PLTB berbasis internet yang menggunakan modul INA219 untuk membaca tegangan, arus, dan daya listrik. Hasilnya dikirim ke aplikasi Blynk melalui modul NodeMCU ESP32, yang memudahkan pemantauan penggunaan energi secara real-time. Untuk penelitian disini PLTS mampu menghasilkan tegangan listrik paling tinggi pada jam 13.00 dengan intensitas cahaya 41.491 lux untuk tegangan sebesar 26,15v dengan kondisi cuaca cerah. Dan tegangan terendah yang dihasilkan pada jam 16.00 dengan intensitas cahaya 32,410lux besaran tegangan yang dihasilkan 23,36v dengan kondisi cuaca berawan. Sedangkan untuk PLTB menghasilkan kecepatan angin paling tinggi pada jam 16.00 dan 19,00 sebesar 6,1m/s untuk tegangan sendiri yang dihasilkan masing-masing jam sebesar 5,9v. Dengan kedua pembangkit yang sudah beroperasi maka diperlukan baterai sebagai komponen tambahan sebagai penyimpanan energy yang telah dihasilkan.
Copyrights © 2024