Pembinaan kepada narapidana ditujukan untuk memberikan bekal untuk meningkatkan kualitas hidup narapidana. Sehingga lembaga pemasyarakatan wajib memberikan fasilitas terhadap narapidana untuk mengembangkan potensi salah satunya dengan memberikan pelatihan kerja kepada narapidana. Agar pelatihan kerja kepada narapidana berjalan optimal maka diperlukan kerja sama antara lembaga pelatihan kerja maupun pemerintah atau sektor swasta yang terkait. Permasalahan dalam penelitian ini mengenai penerapan serta faktor – faktor yang menjadi penghambat dalam penerapan collaborative governance pada pembinaan kemandirian mebel di Lapas Kelas IIA Binjai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan serta faktor – faktor yang menjadi penghambat dalam penerapan collaborative governance pada pembinaan kemandirian mebel di Lapas Kelas IIA Binjai. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalam teori collaborative governance. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui sumber data primer dan sekunder yang terdiri dari wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian ini adalah dilog tatap muka antara Lapas Kelas IIA Binjai dengan Balai Latihan Kerja dan Yayasan Srikandi; lapas membangun kepercayaan dengan pihak terkait; komitmen secara tertulis antara lapas dengan pihak terkait; adanya pemahaman bersama antara ketiga pihak; narapidana yang mampu membuat karya mebel yang sesuai standar pasar
Copyrights © 2024