Artikel ini menelusuri spiritualitas feminis perempuan penghayat kepercayaan Sapta Darma yang ada di Semarang dan Yogyakarta. Melalui pencarian jiwa sebagai kebutuhan spiritual, perempuan Sapta Darma mampu bertahan di tengah situasi keamanan negara yang berubah-ubah dalam memenuhi hak bagi penghayat. Ruang berkumpulnya perempuan didukung oleh adanya bidang perempuan di Persada dan dibentuknya organisasi khusus perempuan penghayat kepercayaan yaitu Puan Hayati. Situasi itu dipertemukan pada spiritualitas penciptaan sebagai landasan aksi bagi perempuan Sapta Darma. Spirtualitas penciptaan itu bersumber pada simbol pribadi manusia, ketokohan Ibu Panuntun Agung Sri Pawenang dan peran rangkap tiga bagi perempuan.
Copyrights © 2025