Keluarga, sebagai unit terkecil dalam masyarakat, memainkan peran krusial dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia—mulai dari sandang-pangan-papan hingga aktualisasi diri—sekaligus menjadi fondasi pembentukan karakter dan resiliensi anak. Namun, dinamika modern seperti tekanan ekonomi, kesibukan profesional, dan derasnya arus globalisasi menggerus kedekatan komunikasi antarpribadi antara orang tua dan anak. Padahal, komunikasi yang efektif dalam keluarga tidak hanya bertujuan untuk bertukar informasi, tetapi juga membangun kepercayaan, menghargai keunikan individu, serta menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kritis dan kreatif anak. Kajian ini menganalisis kompleksitas komunikasi antarpribadi dalam keluarga melalui integrasi teori-teori komunikasi seperti social penetration, social exchange, dan affection exchange theory, serta paradigma filosofis positivisme dan post-positivisme. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendekatan positivisme yang linear dan mekanistik tidak cukup menggambarkan dinamika komunikasi keluarga yang multidimensional. Sebaliknya, perspektif post-positivisme yang holistik—dengan mengakui peran nilai subjektif, konstruksi makna, dan konteks sosial—menawarkan kerangka yang lebih relevan untuk memahami interaksi keluarga di tengah tantangan global. Komunikasi dialogis, keakraban, dan resolusi konflik berbasis empati menjadi kunci dalam mempertahankan fungsi edukatif dan emosional keluarga. Kajian ini merekomendasikan revitalisasi peran keluarga melalui strategi komunikasi yang mengintegrasikan teori dan praktik, seperti peningkatan keterampilan self-disclosure, penguatan emotional contagion, serta adaptasi terhadap nilai-nilai kultural yang relevan. Dengan demikian, keluarga tidak hanya menjadi benteng moral, tetapi juga wadah pengembangan generasi yang adaptif dan berkarakter di era digital.
Copyrights © 2025