Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERUBAHAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI DAN ISLAM Bahrul Jamil
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 1 (2025): Februari - Maret 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan sosial sebagai fenomena universal yang melekat dalam dinamika masyarakat dianalisis melalui integrasi perspektif sosiologi dan Islam dalam penelitian ini. Tujuan utama penelitian adalah mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai spiritual Islam memperkaya konsep perubahan sosial modern, sekaligus menanggapi tuduhan Orientalis yang menyatakan Islam anti-kemajuan. Metode yang digunakan adalah studi literatur kualitatif deskriptif-analitis, dengan sumber primer (Al-Qur’an, Hadis, karya Ibn Khaldun, Al-Qaradawi) dan sekunder (teori Marx, Durkheim, Weber). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan sosial bersifat niscaya, terbagi dalam bentuk evolusi (lambat) dan revolusi (cepat), serta dipengaruhi faktor ide, tokoh, dan gerakan kolektif. Sosiologi menekankan faktor material seperti ekonomi dan teknologi, sementara Islam menawarkan pendekatan holistik berbasis sunnatullah (hukum Tuhan yang tetap) yang mengintegrasikan dimensi moral-spiritual. Hijrah Nabi Muhammad SAW menjadi contoh revolusi sosial radikal yang mentransformasi masyarakat Arab Jahiliyah menuju peradaban berbasis tauhid, keadilan, dan persaudaraan. Islam mendefinisikan masyarakat ideal (khaira ummah) melalui prinsip amar ma’ruf nahi munkar, persatuan, dan keimanan kokoh. Kontribusi Islam terhadap modernisasi juga ditegaskan melalui perintah menuntut ilmu (QS. Al-‘Alaq: 1-5) dan penolakan terhadap klaim anti-kemajuan. Modernisasi dalam Islam tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga menjaga keseimbangan etika spiritual dan keadilan sosial. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa integrasi perspektif sosiologi-Islam mampu membentuk kerangka perubahan sosial yang responsif terhadap nilai kemanusiaan. Temuan ini menjadi dasar rekomendasi untuk pengembangan teori sosial inklusif serta program modernisasi berkelanjutan yang selaras dengan prinsip keadilan dan ketakwaan.
Paradigma Post-Positivisme dalam Komunikasi Antarpribadi Keluarga: Revitalisasi Peran Orang Tua sebagai Agen Pembentuk Karakter Anak di Era Digital Bahrul Jamil
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 3 (2025): MARET 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keluarga, sebagai unit terkecil dalam masyarakat, memainkan peran krusial dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia—mulai dari sandang-pangan-papan hingga aktualisasi diri—sekaligus menjadi fondasi pembentukan karakter dan resiliensi anak. Namun, dinamika modern seperti tekanan ekonomi, kesibukan profesional, dan derasnya arus globalisasi menggerus kedekatan komunikasi antarpribadi antara orang tua dan anak. Padahal, komunikasi yang efektif dalam keluarga tidak hanya bertujuan untuk bertukar informasi, tetapi juga membangun kepercayaan, menghargai keunikan individu, serta menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kritis dan kreatif anak. Kajian ini menganalisis kompleksitas komunikasi antarpribadi dalam keluarga melalui integrasi teori-teori komunikasi seperti social penetration, social exchange, dan affection exchange theory, serta paradigma filosofis positivisme dan post-positivisme. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendekatan positivisme yang linear dan mekanistik tidak cukup menggambarkan dinamika komunikasi keluarga yang multidimensional. Sebaliknya, perspektif post-positivisme yang holistik—dengan mengakui peran nilai subjektif, konstruksi makna, dan konteks sosial—menawarkan kerangka yang lebih relevan untuk memahami interaksi keluarga di tengah tantangan global. Komunikasi dialogis, keakraban, dan resolusi konflik berbasis empati menjadi kunci dalam mempertahankan fungsi edukatif dan emosional keluarga. Kajian ini merekomendasikan revitalisasi peran keluarga melalui strategi komunikasi yang mengintegrasikan teori dan praktik, seperti peningkatan keterampilan self-disclosure, penguatan emotional contagion, serta adaptasi terhadap nilai-nilai kultural yang relevan. Dengan demikian, keluarga tidak hanya menjadi benteng moral, tetapi juga wadah pengembangan generasi yang adaptif dan berkarakter di era digital.