Al-Quran sebagai kalamullah yang juga menjadi pedoman bagi kehidupan umat manusia memiliki keistimewaan yang luar biasa. Di antaranya adalah Al-Quran secara tekstual disampaikan secara singkat, namun secara kontekstual justru mengandung makna yang luas dan sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang beriman. Hal ini dapat dilihat dengan terus berkembangnya teori dan makna-makna baru yang ditemukan melalui penelitian terhadap nas-nas Al-Quran yang ditinjau dari berbagai sudut pandang yang bervariasi. Di antara penelitian yang sering dilakukan oleh para pemerhati Al-Quran adalah penelitian terhadap pencarian makna dari suatu kata di dalam Al-Quran sehingga menghasilkan sebuah pemaknaan yang komprehensif untuk dipahami dan diamalkan oleh seorang mukmin. Tulisan ini membahas mengenai makna kata wasatha dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 143. Dengan menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce yang terdiri dari tiga bagian utama (Representamen, Objek dan Interpretan), ditemukan bahwa wasatha bukan hanya berarti seimbang, namun juga moderat, jalan tengah, paling baik, reformis, dll. Melalui ayat tersebut, Allah swt memberikan sebuah pesan kepada setiap mukmin untuk berusaha agar menjadi bagian dari umat yang adil dan umat yang terbaik. Bahwa konsep wasatha merupakan konsep yang sudah jelas melekat dengan Islam, namun seringkali dimaknai secara sempit sehingga mendegradasi makna asli dari wasatha itu sendiri.
Copyrights © 2024