Salah satu penyebab utama kebutaan permanen di dunia adalah glaukoma sudut terbuka primer (POAG) yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokular (IOP) dan neuropati optik progresif. Secara global, diperkirakan lebih dari 57 juta orang terkena POAG pada tahun 2015. Sebuah penelitian berbasis rumah sakit pada tahun 2020 di Jakarta menemukan bahwa 35% pasien POAG menderita astigmatisme ≥1,0 dioptri. Studi ini menyoroti pentingnya deteksi dini dan pengobatan multidisiplin untuk mencegah kebutaan permanen dan penurunan kualitas hidup pasien. Disajikan laporan kasus seorang wanita berusia 23 tahun dengan riwayat keluarga menderita glaukoma. Datang mengeluhkan pandangan kabur pada kedua mata sejak 1 tahun terakhir dan memburuk sejak 3 hari yang lalu. Visus dilaporkan sebagai OD 0,8 C -0,50D X 135°, OS 1,0 F1 S C -0,25 dengan koreksi 1.0 pada masing-masing mata. Pemeriksaan fisik mata ditemukan disfungsi kelenjar meibom ODS, refleks fundus dan makula ODS positif, kornea ODS jernih, kedalaman bilik mata depan (COA) ODS cukup, dan lensa ODS jernih. Hasil pemeriksaan tonometri ODS dilaporkan masing-masing 24 mmHg. Hasil pemeriksaan funduskopi langsung dilaporkan N. II OD bulat dengan batas tegas, N. II OS glaukomatosa, C/D rasio OD 0.6 dan OS 0.7, barring of circumlinear vessels (+/+), DLS (+/+), dan terdapat penipisan temporal dan vertikal, A/V ODS 2/3.
Copyrights © 2025