Penelitian ini bertujuan memperoleh manfaat lokal dalam menghadapi krisis Bahasa Campuran, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan wawancara kepada Guru Kurikulum, Guru Bahasa Sunda dan Peserta didik. Serta mengadopsi teori dari Fishman yaitu teori Sosiolinguistik, yang menyatakan individu menggunakan berbagai kemungkinan berbahasa yang mempengaruhi domain atau lingkungan hidup. Lalu Fenomena Mixing Language merupakan sebuah proses dimana terjadinya percampuran antara dua atau beberapa kosakata dari bahasa-bahasa tertentu yang disatupadukan dan membuat tatanan bahasa baru yang cenderung menjadi awal kekeliruan dalam menuturkan bahasa dengan baik dan benar. Adapun hasil penelitian ini adalah: 1) Bahasa Sunda begitu krusial sebagai identitas utama yang perlu dipertahankan sekaligus dilestarikan. 2) Fenomena Pencampuran Bahasa tidak dapat disamakan sebagai penggerus identitas budaya tetapi sebagai perancu. 3) Guru Kurikulum, Guru Bahasa Sunda dan Peserta didik tidak setuju apabila muatan lokal penghapusan dari kurikulum karena hal ini merupakan upaya dari mempertahankan dan melestarikan Bahasa Sunda.
Copyrights © 2025