Fenomena bullying berbasis bahasa daerah merupakan masalah sosial yang sering terjadi di lingkungan pendidikan, namun masih minim mendapat perhatian akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penggunaan bahasa daerah dapat menjadi alasan terjadinya bullying di sekolah serta dampaknya terhadap korban. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam kepada siswa, guru, dan pihak terkait di lingkungan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa daerah tertentu sering dikaitkan dengan stereotip negatif, yang memicu tindakan ejekan, diskriminasi, dan eksklusi sosial terhadap individu yang menggunakan bahasa tersebut. Selain itu, faktor lingkungan, kurangnya kesadaran budaya, serta pengaruh media turut memperkuat pola bullying berbasis bahasa daerah. Dampak dari fenomena ini meliputi penurunan rasa percaya diri, stres, hingga keengganan korban untuk menggunakan bahasa daerahnya di ruang publik. Penelitian ini merekomendasikan perlunya sosialisasi kesadaran multikultural serta kebijakan sekolah yang lebih inklusif untuk mencegah diskriminasi berbasis bahasa.
Copyrights © 2025