Meskipun akses terhadap air minum yang aman sangat penting bagi kesehatan masyarakat, daerah perkotaan seperti Jagakarsa, Jakarta Selatan, tetap menghadapi tantangan berupa kontaminasi, infrastruktur yang buruk, dan kesadaran masyarakat yang rendah. Persepsi dan kesadaran masyarakat terhadap kualitas air minum dan risiko kesehatan terkait dinilai dalam studi ini. Dengan menggunakan wawancara terstruktur, 108 warga dari enam kecamatan berpartisipasi dalam survei lintas sektor. Statistik deskriptif dan teknik tabulasi silang digunakan untuk menganalisis data. Hasilnya menunjukkan bahwa 38% responden mengalami masalah sensorik seperti rasa, bau, dan masalah kejernihan yang buruk, meskipun 62% responden percaya bahwa air minum mereka aman. Kesadaran akan penyakit yang ditularkan melalui air relatif tinggi (88%), terutama di kalangan orang yang lebih muda (93,9%). Dengan kelompok berpenghasilan tinggi lebih menyukai air minum kemasan dan kelompok berpenghasilan rendah bergantung pada sumber yang tidak diolah, pertimbangan sosial ekonomi merupakan dampak yang signifikan dalam pola penggunaan air. Lebih jauh, 90,7% individu menyukai pengujian kualitas air rutin, dan 67,6% menganggap air keran berbahaya. Hasil ini menunjukkan betapa mendesaknya undang-undang kualitas air yang lebih kuat, lebih banyak edukasi kesehatan masyarakat, dan peningkatan infrastruktur untuk menjamin air minum yang aman. Untuk mengurangi bahaya kesehatan, sangat penting untuk mengatasi kesalahpahaman masyarakat, meningkatkan kesadaran akan risiko kontaminasi, dan mendukung metode pengolahan air yang mudah diakses. Inisiatif kebijakan dan inisiatif edukasi berbasis masyarakat yang mendukung akses yang sama terhadap air minum bersih di kota-kota Indonesia harus menjadi prioritas utama dalam intervensi di masa mendatang.
Copyrights © 2025