The Betawi people, the indigenous people of Jakarta, have rich artistic heritage such as dance, culinary, and music. Over time, however, many Betawi art traditions were forgotten. The DKI Jakarta government developed the Setu Babakan Cultural Village to preserve and improve cultural tourism. Although initially successful in attracting tourists, Setu Babakan will experience a significant decrease in visits during the COVID-19 pandemic, influenced by the lack of physical and non-physical attraction as well as the cessation of art performances. This study aims to restore Setu Babakan's tourist attraction with the Placemaking approach and the application of interlock program. This study identified the factors that led to the degradation of Setu Babakan's tourist attraction, which strategized with placemaking principles and interlock program to create a cultural space integrated with existing tourism in Setu Babakan. Qualitative descriptive methods are conducted through literature studies, support theory studies, surveys and documentation. Through the results of the analysis, the programs found were interactive galleries, workshops, art training and informal schools using the concept of interlock program can overcome the degradation of tourist attraction and provide opportunities for visitors to travel to the existing Setu Babakan tourism so that tourism in Setu Babakan can become a tourist attraction again. To increase the maximum tourist attraction in Setu Babakan, further evaluation of the effectiveness of the proposed programs is needed. A survey on the satisfaction of visitors and the local community after new programs is urgently needed to receive input and continue to improve the quality of tourism in Setu Babakan. Keywords: interlock program; placemaking; Setu Babakan Abstrak Suku Betawi, suku asli Jakarta, memiliki warisan seni yang kaya seperti tari, kuliner, dan musik. Namun, seiring waktu, banyak tradisi seni Betawi terlupakan. Pemerintah DKI Jakarta mengembangkan Kampung Budaya Betawi Setu Babakan untuk melestarikan dan meningkatkan pariwisata budaya. Meskipun awalnya sukses menarik wisatawan, Setu Babakan mengalami penurunan kunjungan signifikan saat pandemi COVID-19, dipengaruhi oleh minimnya daya tarik fisik dan non-fisik serta penghentian dari pertunjukan seni. Studi ini bertujuan untuk mengembalikan daya tarik wisata Setu Babakan dengan pendekatan Placemaking dan penerapan interlock program. Studi ini mengidentifikasi faktor yang menyebabkan terjadinya degradasi daya tarik wisata Setu Babakan yang distrategikan dengan prinsip placemaking dan interlock program untuk menciptakan ruang budaya yang berintegrasi dengan wisata-wisata yang sudah ada di Setu Babakan. Metode desktiptif kualitatif dilakukan melalui studi literatur, kajian teori pendukung, survey dan dokumentasi. Melalui hasil analisis, program yang ditemukan berupa galeri interaktif, workshop, pelatihan seni dan sekolah informal dengan menggunakan konsep interlock program dapat mengatasi dari degradasi daya tarik wisata dan memberikan peluang bagi pengunjung untuk berwisata ke wisata Setu Babakan yang sudah ada sehingga wisata di Setu Babakan dapat kembali menjadi daya tarik wisata. Untuk meningkatkan daya tarik wisata di Setu Babakan secara maksimal, diperlukannya evaluasi lebih lanjut dari keefktifan program-program yang diusulkan. Survei kepuasan pengunjung dan masyarakat lokal setelah adanya program-program baru sangat diperlukan untuk mendapatkan masukan dan terus meningkatkan kualitas wisata di Setu Babakan.
Copyrights © 2024