ABSTRACTPara ulama hadis telah berupaya menetapkan kualitas hadis Nabi melalui definisi, kriteria, macam-macam, dan kehujjahannya. Dalam konteks tasawuf modern, sebagaimana diungkapkan Yusuf al-Qaradawi, terdapat penyimpangan dalam penggunaan hadis oleh kaum sufi, yang sering mengandalkan pengalaman spiritual pribadi, seperti kasyf, untuk menilai autentisitas hadis. Penelitian ini bertujuan mengkaji autentisitas hadis menurut ahli hadis dan kaum sufi, dengan fokus pada standar yang digunakan masing-masing. Metode penelitian adalah kajian kepustakaan (library research), menggunakan kitab-kitab hadis dalam *kutub al-Tis’ah sebagai rujukan utama, serta buku, jurnal, dan dokumen lainnya sebagai sumber sekunder. Data dikumpulkan melalui metode dokumentasi dan dianalisis secara tematik (mauḍū’ī). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ahli hadis menetapkan lima kriteria untuk autentisitas hadis: bersambungnya sanad (ittiṣāl al-sanad), keadilan perawi (‘adālah), kekuatan hafalan (ḍābiṭ), tidak adanya kejanggalan (‘adam al-syużūż), dan bebas cacat (‘adam al-‘illah). Sebaliknya, kaum sufi menggunakan dua pendekatan berbeda: liqā’ al-Nabī (pertemuan spiritual dengan Nabi) dan ṭāriq al-kasyf (penyingkapan batin), yang sering berbeda dengan standar ahli hadis.Kata Kunci: Kekeliruan penetapan keṣaḥīḥan ḥadīṡ, ahli ḥadīṡ, kaum sūfī
Copyrights © 2024