Salah satu kendala utama dalam implementasi jaringan 5G adalah biaya yang tinggi. Infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung jaringan 5G jauh lebih kompleks dan mahal dibandingkan dengan 4G. Misalnya, untuk membangun satu menara 5G, penyedia layanan harus mengeluarkan biaya yang signifikan untuk perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan, serta untuk lisensi frekuensi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi operator seluler, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, di mana anggaran untuk pengembangan infrastruktur sering kali terbatas. Dalam konteks ini, penting untuk mempertimbangkan bagaimana biaya tersebut dapat diimbangi dengan manfaat yang diperoleh dari penerapan teknologi ini.Layanan 5G adalah layanan seluler yang mulai banyak diimplementasikan di Indonesia. Berdasarkan Kementerian Kominfo, penetrasi 5G di Indonesia sebesar 2,9 % pada 2023. Salah satu kendala dari implementasi jaringan 5G adalah besarnya biaya yang dibutuhkan dibandingkan teknologi 4G dan kecendrungan masyarakat Indonesia yang memakai layanan broadband hanya untuk keperluan hiburan dan mencari berita. Institusi pendidikan berpotensi menjadi sumber pendapatan lain dalam penggunaan jaringan 5G. Berdasarkan metode cost and benefit analysis, implementasi jaringan 5G di Politeknik Industri Petrokimia Banten layak dilakukan. Hal ini tercermin dari nilai Net Present Value (NPV) sebesar $727.028,2.
Copyrights © 2025