Gempa tektonik yang terjadi pada 28 September 2018 akibat pergeseran sesar Palu-Koro mengakibatkan dampak besar bagi Kota Palu, khususnya di Kelurahan Balaroa, yang mengalami likuifaksi (Nalodo), merusak struktur tanah dan bangunan serta menyebabkan banyak korban jiwa. Dalam upaya pemulihan, pengembangan Memorial Park Nalodo di Balaroa menjadi penting untuk menghormati korban bencana, serta menyediakan ruang edukasi dan rekreasi bagi masyarakat. Penilitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dimana proses pengumpulan data dengan melakukan survey langsung di lapangan dan mengumpulkan data dari beberapa instansi terkait, serta wawancara langsung korban bencana likuifaksi di Kelurahan Balaroa. Hasil analisis studi ini adalah, membagi Kawasan Balaroa menjadi 4 (empat) zona yaitu zona A patahan, zona B edukasi dan memorial park, zona C Hutan Produksi, dan zona D area fasilitas dan mitigation center. Pengembangan Memorial Park Nalodo di Balaroa ini memerlukan keterlibatan aktif masyarakat lokal, mulai dari pemeliharaan dan pengembangan taman, guna meningkatkan rasa memiliki dan solidaritas terhadap ruang publik. Melalui pelibatan masyarakat, diharapkan taman ini tidak hanya berfungsi sebagai memorial, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan dan ketahanan komunitas dalam menghadapi bencana di masa depan.
Copyrights © 2024