Artikel ini mengkaji pandangan filsafat Aristoteles sebagaimana dikritisi dan dikontekstualisasikan dalam Kitab karya monumental Syaikh Nadim al-Jisr yang berjudul Qisshat al-Îmân bayna al-Falsafah wa al-‘Ilm wa al-Qur’ân. Melalui pendekatan kualitatif dan analisis hermeneutik, studi ini menelaah posisi Aristoteles dalam diskursus hubungan antara akal, wahyu, dan ilmu pengetahuan. Kitab tersebut disusun dalam bentuk dialog yang mempertemukan rasionalisme Yunani dengan spiritualitas Islam, sehingga menawarkan sintesis unik dalam menjawab persoalan metafisika dan teologi. Studi ini menunjukkan bahwa meskipun Syaikh Nadim mengapresiasi kontribusi logika dan metafisika Aristoteles, Syaikh Nadim juga menunjukkan keterbatasan nalar filosofis ketika berhadapan dengan wahyu ilahi. Dengan demikian, Kitab ini menjadi jembatan penting antara filsafat klasik dan pemikiran Islam kontemporer.
Copyrights © 2023