Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pandangan Syaikh Nadim al-Jisr dalam karyanya Qisshat al-Îmân bayna al-Falsafah wa al-‘Ilm wa al-Qur’ân terhadap fenomenologi Barat, terutama yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Edmund Husserl, Martin Heidegger, dan Maurice Merleau-Ponty. Dengan pendekatan kualitatif dan analisis tekstual filosofis, kajian ini membandingkan cara pandang fenomenologi Barat terhadap pengalaman kesadaran, subjektivitas, dan makna dengan pendekatan integratif yang diajukan al-Jisr melalui sinergi akal (filsafat), indera (ilmu), dan wahyu (Al-Qur’an). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun fenomenologi berupaya mendekonstruksi cara berpikir positivistik yang dominan di Barat, ia tetap terperangkap dalam lingkup subjektivitas manusia dan tidak mampu menembus wilayah transendensi yang mutlak. Di sinilah posisi kritik al-Jisr menjadi relevan, yakni perlunya wahyu sebagai pelengkap dan penuntun dalam memahami realitas hakiki. Artikel ini memberikan kontribusi pada dialog antara filsafat Islam dan filsafat Barat kontemporer, khususnya dalam ranah epistemologi dan spiritualitas.
Copyrights © 2023