Dinasti Utsmani (Ottoman) pernah menjadi kekuatan besar dunia Islam selama lebih dari enam abad sebelum runtuh pada awal abad ke-20. Namun dalam beberapa dekade terakhir, terutama di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan, muncul kembali orientasi politik dan budaya yang disebut Neo-Ottomanisme. Gerakan ini tidak hanya menghidupkan simbol-simbol kejayaan masa lalu seperti konversi Hagia Sophia menjadi masjid, tetapi juga menempatkan Turki sebagai pusat peradaban Islam modern. Neo-Ottomanisme menjadi strategi politik identitas dan diplomasi budaya yang menyatukan nasionalisme, Islamisme, dan warisan sejarah Ottoman. Artikel ini membahas bagaimana Turki menggunakan narasi sejarah dan media digital untuk membangun solidaritas transnasional di dunia Islam sekaligus menegosiasikan posisinya di tengah dinamika geopolitik global. Pertanyaan utama yang dikaji adalah: apakah kebangkitan ini hanya romantisasi masa lalu atau sebuah upaya serius untuk menghidupkan kembali warisan Ottoman dalam konteks kontemporer?
Copyrights © 2025