Perceraian akibat perselingkuhan dapat berdampak besar bagi anak, terutama jika menyebabkan kondisi fatherless. Dampak ini kian terasa di masa dewasa awal, ketika individu mulai membangun relasi yang lebih serius. Kurangnya keterlibatan ayah dapat memengaruhi interaksi sosial, terutama dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Penelitian ini bertujuan memahami persepsi pernikahan pada wanita dewasa awal yang mengalami fatherless akibat perceraian karena perselingkuhan. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan pada dua partisipan, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur. Hasil menunjukkan bahwa pengalaman fatherless membentuk persepsi partisipan terhadap pernikahan, khususnya dalam hal ketakutan akan kegagalan pernikahan. Satu partisipan menunjukkan persepsi cenderung positif dengan sikap optimis dan percaya bahwa pernikahan yang sehat masih mungkin dibangun, sedangkan partisipan lainnya memiliki persepsi cenderung negatif berupa sikap skeptis dan kehati-hatian. Faktor internal seperti pengalaman pribadi, serta faktor eksternal seperti paparan media, turut membentuk persepsi partisipan. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan psikologis bagi individu dengan pengalaman serupa untuk membangun relasi yang sehat di masa depan.
Copyrights © 2025