Artikel ini membahas konstruksi paradigma tentang kekudusan Hari Sabat berdasarkan Kitab Keluaran 20:8-11 di Jemaat Syalom Pasangkalua', Desa Tanamakaleang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemahaman jemaat mengenai makna dan praktik kekudusan Hari Sabat dalam konteks kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jemaat menganggap Hari Sabat sebagai waktu yang diberkati untuk beribadah dan memperdalam hubungan dengan Tuhan. Selain itu, terdapat variasi dalam praktik kekudusan yang dipengaruhi oleh tradisi lokal dan pemahaman teologis. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan teologi Sabat di kalangan jemaat dan memperkuat komitmen spiritual mereka terhadap kekudusan Hari Sabat. Variasi praktik mencerminkan adaptasi budaya yang memperkaya pengalaman spiritual mereka. Temuan ini menyoroti pentingnya pemahaman holistik tentang kekudusan Sabat. Sabat tidak hanya berfokus pada kepatuhan terhadap hukum, tetapi juga pada penilaian relevansi dan relevansi kehidupan sehari-hari.
Copyrights © 2025