Latar Belakang: Emotional eating adalah kecenderungan untuk mengonsumsi makanan secara berlebihan, khususnya yang tinggi gula, garam, dan lemak, sebagai respons terhadap emosi negatif. Ketidakmampuan mengendalikan kebiasaan emotional eating dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, misalnya obesitas, penyakit kardiovaskuler, dan memicu terjadinya perilaku makan yang tidak sehat, seperti bulimia nervosa dan gangguan makan berlebih. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non eksperimental dengan desain studi cross-sectional terhadap data primer dari responden penelitian yang berjumlah 75 orang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari jumlah 44 laki-laki terdapat 5 laki- laki (11,4%) yang mengalami emotional eating kategori rendah, 30 laki-laki (68,2%) yang mengalami emotional eating kategori sedang, 9 laki-laki (20,5%) mengalami emotional eating kategori tinggi. Sedangkan, dari 31 perempuan terdapat 5 perempuan (16,1%) mengalami emotional eating kategori rendah, 22 perempuan (71%) mengalami emotional eating kategori sedang, 4 perempuan (12,9%) mengalami emotional eating kategori tinggi. Dari segi usia, baik usia 20-23 tahun mayoritas mengalami emotional eating. Tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan emotional eating (p-value 0,842). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata usia responden dengan emotional eating kategori rendah, sedang, dan tinggi (p-value 0,629). Kesimpulan: Mayoritas responden mengalami emotional eating kategori sedang, Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan emotional eating, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata usia responden dengan responden yang mengalami emotional eating.
Copyrights © 2024