Secara global, sejumlah 1,28 miliar dewasa dalam rentang usia 30–79 tahun hidup dengan hipertensi, namun 46% tidak menyadari kondisinya, dan hanya 42% yang menerima pengobatan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Indonesia melaporkan bahwa hipertensi menjadi penyakit tidak menular nomor satu dengan prevalensi yang terus meningkat yaitu sebesar 25,8% pada tahun 2013 menjadi 34,1% pada tahun 2018. Hipertensi menyumbang 8 juta kematian setiap tahunnya, termasuk 1,5 juta di Asia Tenggara. Tujuan kegiatan diagnosis komunitas ini adalah untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas kasus hipertensi tidak terkendali di Desa Renged, area kerja Puskesmas Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Pendekatan diagnosis komunitas dilakukan dengan mengidentifikasi masalah menggunakan Paradigma Blum. Teknik non-skoring Delphi digunakan untuk menentukan prioritas masalah dan fishbone diagram untuk menentukan akar penyebab masalah. Pemantauan selama intervensi menggunakan plan–do–check–action cycle serta dilakukan pendekatan sistem sebagai evaluasi. Berdasarkan proses identifikasi dan penentuan akar masalah, dilakukan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi di mana 88% peserta memperoleh nilai pengetahuan ≥ 70. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan pendekatan diagnosis komunitas terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat Desa Renged mengenai hipertensi. Dengan terjaidnya peningkatan pengetahuan, diharapkan peserta penyuluhan dapat menyebarluaskan informasi yang didapatkan kepada lingkungan sekitar sehingga diharapkan terjadi penurunan angka morbiditas dan mortalitas kasus hipertensi tidak terkendali di wilayah kerja Puskesmas Kresek.
Copyrights © 2025