Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi Curcuma xanthorrhiza Roxb. (temulawak) dalam manajemen gangguan pencernaan dengan mengintegrasikan pendekatan biomedik molekuler, genomik, dan etnomedisin Indonesia. Metode penelitian yang digunakan berupa kajian literatur sistematis yang mengikuti pedoman PRISMA, dengan penelusuran data dari empat basis data utama (PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Garuda) untuk publikasi antara tahun 2013 hingga 2023. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi, seperti studi preklinis, klinis, in silico, dan etnofarmakologi, diseleksi dan dievaluasi kualitasnya menggunakan pedoman dari Joanna Briggs Institute. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa aktif temulawak, yaitu kurkuminoid dan xanthorrhizol, memiliki efek antiinflamasi, antioksidan, imunomodulator, dan protektif terhadap mukosa saluran cerna. Temulawak juga terbukti memodulasi ekspresi gen inflamasi dan antioksidan, memperkuat integritas epitel usus, serta mempengaruhi mikrobiota dengan meningkatkan bakteri probiotik dan produksi short-chain fatty acids (SCFA). Teknologi farmasi modern seperti nanopartikel, phytosome, dan ko-administrasi dengan piperin secara signifikan meningkatkan bioavailabilitas senyawa aktifnya. Simpulan, Curcuma xanthorrhiza berpotensi besar sebagai fitofarmaka integratif dalam pengobatan gangguan pencernaan, terutama dengan pendekatan presisi yang mempertimbangkan faktor genetik dan mikrobiotik individu. Kata Kunci : Curcuma Xanthorrhiza, Kurkuminoid, Xanthorrhizol, Mikrobiota Usus, Pengobatan Tradisional, Genomik
Copyrights © 2025