Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 menjadi titik awal munculnya semangat perubahan di kalangan masyarakat yang terpinggirkan, termasuk para petani yang selama ini hidup dalam bayang-bayang penindasan. Sejak masa kerajaan, penjajahan Belanda dan Jepang, hingga era setelah kemerdekaan, petani kerap diposisikan sebagai kelompok yang lemah dan berada dalam tekanan, baik dari kekuasaan kolonial maupun penguasa lokal. Mereka yang menetap di pedesaan biasanya terikat dalam sistem patronase yang berakar pada feodalisme dan kurang terorganisir. Sejarah mencatat bahwa kaum petani pernah bangkit secara besar-besaran, seperti dalam pemberontakan Banten tahun 1888. Setelah kemerdekaan Indonesia, muncul dua organisasi tani utama dengan latar ideologi yang berbeda: Sarekat Tani Islam Indonesia yang berlandaskan nilai-nilai Islam, dan Barisan Tani Indonesia yang menganut paham komunis. Kedua organisasi ini bersaing dalam merebut dukungan petani dan sama-sama berjuang melawan ketidakadilan agraria. Artikel ini membahas dinamika ketegangan antara STII dan BTI pada periode pascakemerdekaan melalui pendekatan historis dan analisis kualitatif. Fokus kajian mencakup latar belakang pendirian masing-masing organisasi, strategi mereka dalam membangun basis massa, serta konflik yang terjadi di antara keduanya. Hasil analisis menunjukkan bahwa persaingan antara STII dan BTI mencerminkan perpecahan ideologis yang lebih luas antara Islam dan komunisme dalam konstelasi politik Indonesia menjelang peristiwa 1965. Kata Kunci: STII; BTI; konflik ideologi; Islam politik; komunisme
Copyrights © 2025