Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembingkaian berita terkait ancaman proyek geotermal di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah yang disajikan oleh media massa Project Multatuli. Dengan menggunakan teori framing William A. Gamson dan paradigma naratif Walter Fisher, penelitian ini mengkaji bagaimana media membentuk persepsi publik melalui perangkat pembingkaian (framing devices) dan perangkat penalaran (reasoning devices). Data diperoleh melalui analisis teks mendalam terhadap serial liputan bertajuk #AkalAkalanEnergiHijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Project Multatuli secara konsisten membingkai proyek geotermal bukan sebagai upaya transisi energi bersih, melainkan sebagai paradoks hijau yang menciptakan dampak yang bertentangan dengan nilai-nilai keberlanjutan. Melalui penggunaan metafora, kutipan warga, visualisasi dampak, serta penggambaran atmosfer yang konotatif, media membangun narasi yang kuat tentang ketidakadilan lingkungan (environmental injustice). Selain itu, narasi yang disampaikan menunjukkan koherensi struktural dan material yang tinggi serta resonansi moral yang kuat, sesuai dengan prinsip fidelity dalam paradigma naratif. Dengan demikian, Project Multatuli tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga berperan sebagai agen kontra-hegemoni yang menyuarakan perlawanan warga terhadap eksploitasi alam dan ketimpangan struktural.
Copyrights © 2025