Tulisan ini membahas tantangan dan kompleksitas dalam memahami relasi manusia dan Artificial Intelligence (AI) di era post-humanisme. Fenomena ini memicu diskusi filosofis dan teologis tentang kebebasan, otentisitas, dan eksistensi manusia yang semakin terkait dengan teknologi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi literatur sebagai metode pengumpulan data, tulisan ini mengelaborasi relasi manusia dan AI untuk memperlihatkan kompleksitas eksistensi keduanya dalam proses “menjadi”. Oleh karena itu, pemahaman teologis mengenai eksistensi dan hakikat manusia sebagai gambar Allah pun belum sepenuhnya final sehingga diperlukan upaya memahami secara terus menerus tentang manusia dalam kelindannya dengan realitas AI. Melalui teori Actor-Network dari Bruno Latour dan "becoming machine" dari Gilles Delleuze sebagai perspektif post-humanisme yang membidik relasi antara manusia dan AI secara khusus, tulisan ini menghasilkan pandangan dan pemahaman bahwa posisi manusia sebagai gambar Allah dan AI saling berbagi ruang eksistensial, menciptakan kebebasan dan otentisitas yang dinamis, kreatif, dan berjejaring. Pembahasan mengenai relasi manusia dan AI akan berfokus pada ruang lingkup filsafat, khususnya filsafat postmodern dan teologi.
Copyrights © 2025