Penelitian ini mengkaji dinamika politik identitas berbasis agama di kalangan pemuda Muslim Indonesia, dengan fokus pada peran simbolisme religius dan media digital dalam membentuk loyalitas emosional serta mobilisasi sosial-politik. Melalui pendekatan kualitatif dan analisis naratif, studi ini mengungkap bahwa transformasi dari loyalitas simbolik terhadap figur religius seperti Gus, Ning, dan Lora menjadi mobilisasi emosional kolektif berpotensi memperkuat kohesi sosial sekaligus memicu polarisasi dan konflik sosial. Media sosial berperan sentral dalam menyebarkan simbolisme ini melalui elemen visual dan narasi emosional yang sering mengabaikan rasionalitas, sehingga berisiko menimbulkan respons ekstrem dan disintegrasi sosial. Meskipun demikian, terdapat pula pemuda yang mengadopsi pendekatan moderat dan reflektif, seperti Islam Nusantara, yang menekankan toleransi dan dialog antarumat beragama sebagai alternatif pengelolaan politik identitas. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan literasi kritis dan etika digital dalam memanfaatkan potensi agama sebagai sumber inklusi sosial dan transformasi masyarakat yang harmonis. Secara teoritis, studi ini memperkuat pemahaman tentang politik identitas sebagai kerangka analisis dalam konteks sosial-politik Indonesia yang kompleks dan dinamis.
Copyrights © 2025