Kegiatan pengawasan internal oleh Inspektorat Daerah Kabupaten Gianyar masih didominasi oleh praktik manual dalam bentuk pendampingan langsung, pengarsipan fisik, dan penyusunan laporan secara konvensional. Praktik ini menunjukkan karakteristik khas berupa pendekatan humanis, komunikasi langsung dengan entitas yang diawasi, serta fleksibilitas dalam menyesuaikan konteks lapangan. Namun, di sisi lain, pendekatan manual cenderung menyita waktu, rentan terhadap kesalahan administratif, dan terbatas dari segi efisiensi data. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau praktik manual tersebut dan mengevaluasi potensi serta tantangan integrasi teknologi digital dalam mendukung efektivitas program pendampingan dan asistensi pengawasan. Hasil observasi selama kegiatan praktik kerja lapangan menunjukkan bahwa terdapat kebutuhan mendesak terhadap sistem digital yang mampu merekam jejak pendampingan secara real-time, menyimpan dokumen pengawasan secara terpusat, dan menyediakan dashboard pemantauan progres desa binaan. Potensi integrasi digital sangat besar, terutama dalam meningkatkan kecepatan analisis dan kualitas dokumentasi. Namun, tantangan yang dihadapi mencakup keterbatasan literasi digital pegawai, infrastruktur teknologi yang belum merata, serta resistensi terhadap perubahan sistem kerja. Oleh karena itu, keberhasilan transformasi digital dalam pengawasan internal bergantung pada kombinasi antara kesiapan teknologi dan strategi perubahan budaya birokrasi.
Copyrights © 2025