Film The Power Of The Dog memiliki adegan-adegan dan unsur toxic masculinity, dengan tanda-tanda yang merepresentasikan superior laki-laki yang tidak boleh memiliki sifat feminin. Ada stereotip yang berkembang di masyarakat mengenai toxic masculinity, seperti pria tidak boleh menangis, pria harus tegap dengan segala situasi, pria tidak boleh lemah. Stereotip tersebut lahir dari budaya toxic masculinity. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis makna toxic masculinity pada film The Power Of Dog (Analisis Semiotika Roland Barthes). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik analisis semiotika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan denotasi pada film The Power of The Dog adalah pria kasar, dominan, dan menggunakan kekerasan dalam menguasai dan mendominasi orang lain. Konotasi dalam film ini dapat terlihat dari laki-laki menggunakan kekerasannya menciptakan lingkungan yang penuh ketakutan dan ketidakamanan, memperkuat konsep dominasi dan kontrol, serta merusak hubungan keluarga dan individu. Mitos toxic masculinity dalam film ini tercermin dalam persepsi bahwa kekerasan, dominasi, dan ketidakmampuan untuk menunjukkan emosi adalah bagian yang tidak terhindarkan dari maskulinitas yang kuat. Makna toxic masculinity film "The Power of the Dog" mengacu pada penekanan kekerasan dan dominasi laki-laki harus memiliki sifat yang kasar, agresif, dan dominan.
Copyrights © 2024