Air bersih sangat dibutuhkan untuk berbagai aktivitas sehari-hari, seperti mencuci piring, mandi, dan lain sebagainya. Air bersih yang telah digunakan akan menjadi air limbah, yang berpotensi mencemari lingkungan. Air limbah ini dapat berdampak negatif terhadap kehidupan di sekitarnya, seperti pencemaran air, penyebaran penyakit, dan sebagainya. Untuk mengurangi pencemaran air, dapat diterapkan sistem greywater yang dilengkapi dengan proses filtrasi guna meningkatkan kualitas air limbah. Namun, filtrasi yang digunakan secara terus-menerus akan mengalami penurunan kinerja karena kotoran yang menumpuk, sehingga tidak dapat berfungsi secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan sistem pemantauan untuk mengetahui kapan filtrasi perlu diganti. Salah satu indikator perlunya penggantian adalah apabila air limbah yang telah melewati proses filtrasi masih menunjukkan kualitas yang buruk. Dalam penelitian ini, dikembangkan sistem pemantauan untuk memantau kualitas air limbah sebelum dan sesudah proses filtrasi. Jenis air limbah yang digunakan adalah air limbah domestik berupa air sabun bekas mencuci piring. Perancangan sistem terdiri dari beberapa tahapan: air sabun dari wastafel dialirkan ke grease trap, kemudian menuju unit filtrasi, dan selanjutnya ditampung di tempat penampungan air. Di dalam grease trap dan tempat penampungan, dipasang dua sensor untuk mengukur kualitas air. Data hasil pengukuran ditampilkan pada aplikasi Blynk melalui koneksi WiFi dengan menggunakan mikrokontroler ESP32. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sistem filtrasi mampu menjernihkan air sabun serta dapat menurunkan nilai pH-nya. Selain itu, sistem akan memberikan notifikasi ketika hasil pengukuran sebelum dan sesudah filtrasi menunjukkan nilai yang sama. Seluruh data pengukuran dapat dipantau secara real-time melalui aplikasi Blynk.
Copyrights © 2025