Latar Belakang: Mesin Anjungan Pendaftaran Mandiri (APM) diharapkan meningkatkan efisiensi layanan pendaftaran pasien di rumah sakit. Namun, implementasinya di Rumah Sakit PELNI Jakarta menghadapi kendala seperti ketergantungan pasien pada petugas dan gangguan teknis. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas APM berdasarkan persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) dan persepsi kegunaan (perceived usefulness) dalam kerangka Technology Acceptance Model (TAM). Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dilakukan di Rumah Sakit PELNI Jakarta. Partisipan meliputi 20 pasien, 2 petugas TPP, dan 1 petugas IT yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis dengan reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil: Implementasi Anjungan Pendaftaran Mandiri (APM) terbukti mampu mempercepat proses pendaftaran pasien, dengan estimasi waktu 1–2 menit, jauh lebih efisien dibandingkan dengan proses di loket pendaftaran yang memerlukan waktu antara 30 hingga 60 menit. Namun, pengguna lansia dan pemula mengalami kesulitan akibat desain antarmuka kurang intuitif dan ketergantungan pada jaringan BPJS. Persepsi kegunaan APM tinggi karena efisiensi waktu, namun gangguan teknis dan inkonsistensi fasilitas menjadi tantangan utama. Kesimpulan: APM efektif meningkatkan efisiensi waktu, namun memerlukan perbaikan teknis, penambahan jumlah mesin, dan pendampingan petugas untuk kelompok rentan.
Copyrights © 2025