Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika hubungan diplomatik antara Kerajaan Sriwijaya dan Kekaisaran China dari abad ke-7 hingga ke-13 Masehi. Studi ini meneliti berbagai aspek hubungan bilateral kedua kekuatan maritim tersebut, termasuk jalur perdagangan, pertukaran budaya, dan aliansi politik yang terjalin selama berabad-abad. Hubungan Sriwijaya-China dibangun di atas fondasi kepentingan ekonomi dan geopolitik yang saling menguntungkan. Perdagangan rempah, keramik, dan komoditas berharga menjadi pendorong utama hubungan diplomatik, yang diperkuat melalui kunjungan resmi, pertukaran utusan, dan pemberian upeti. Bukti-bukti arkeologis dan catatan sejarah dari dinasti Tang, dan Song menunjukkan intensitas hubungan ini, termasuk ekspedisi-ekspedisi diplomatik seperti yang dipimpin oleh I-Tsing pada abad ke-7. Hubungan diplomatik Sriwijaya-China tidak hanya berdampak pada kemakmuran ekonomi kedua belah pihak, tetapi juga berperan penting dalam penyebaran Buddhisme dan pertukaran pengetahuan di Asia Tenggara. Model diplomasi yang dikembangkan kedua kerajaan ini mencerminkan kecanggihan politik maritim kuno yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan jaringan perdagangan internasional di kawasan Asia. Pola hubungan ini juga menjadi preseden bagi perkembangan diplomasi regional di masa-masa selanjutnya dan menawarkan perspektif historis yang berharga untuk memahami dinamika geopolitik kontemporer di kawasan Indo-Pasifik.
Copyrights © 2025