Desa Raba, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki sektor pertanian sebagai salah satu mata pencaharian utama masyarakatnya, terutama dalam budidaya kacang tanah. Namun, tingginya jumlah hama tikus di wilayah ini sering kali menyebabkan kerusakan tanaman yang cukup serius, sehingga berdampak pada menurunnya hasil panen dan bahkan berpotensi mengakibatkan gagal panen. Kendala utama yang dihadapi petani dalam menangani hama ini adalah keterbatasan waktu serta jarak antara tempat tinggal dan lahan pertanian mereka, Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat pengusir hama tikus berbasis Internet of Things yang dilengkapi dengan PIR Motion Sensor dan aplikasi Blynk, sehingga pengendalian hama dapat dilakukan secara otomatis dan dari jarak jauh. Sistem yang dirancang menggunakan sensor gerak PIR untuk mendeteksi keberadaan tikus, yang kemudian akan mengaktifkan alarm suara dan lampu sebagai respons untuk mengusir hama tersebut. Selain itu, petani dapat memantau serta mengendalikan perangkat ini melalui aplikasi Blynk yang terhubung ke jaringan internet, sehingga memungkinkan pengoperasian alat tanpa harus berada langsung di lahan pertanian. Metode yang digunakan dalam pengembangan sistem ini adalah model prototyping, dengan dilengkapi diagram sistem guna memastikan seluruh komponen dapat bekerja secara optimal. Proses pengujian dilakukan menggunakan metode black-box, yang menunjukkan bahwa alat dapat berfungsi sesuai dengan rancangan awal, seperti mendeteksi keberadaan tikus, mengaktifkan sistem pengusiran, serta mengirimkan notifikasi ke aplikasi Blynk secara real-time. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan petani, khususnya di Desa Raba, dapat lebih mudah dalam menangani hama tikus secara efektif, meningkatkan hasil pertanian kacang tanah, serta mengurangi potensi kerugian akibat serangan hama.
Copyrights © 2025