Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap mitos yang terkandung dalam tradisi Mandi Safar di Desa Air Hitam Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Meskipun tradisi ini terus dilakukan secara turun-temurun, banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang kurang memahami makna di balik simbol-simbol yang digunakan dalam ritual ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna mitos, yakni makna simbolik dan ideologis dari benda-benda dalam tradisi Mandi Safar, berdasarkan teori semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data penelitian berupa simbol atau benda yang digunakan dalam tradisi Mandi Safar yang dianalisis berdasarkan konsep penanda, petanda, dan tanda dalam teori Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tradisi Mandi Safar terdapat sembilan simbol yang memiliki makna mitos, yaitu: (1) menara sebagai lambang keesaan Tuhan, (2) tingkat tiga menara melambangkan iman, Islam, dan ihsan, (3) fondasi menara berbentuk segi empat merepresentasikan empat unsur penciptaan manusia, (4) daun mangga sebagai pelindung dari penyakit, (5) kain putih sebagai simbol kesucian, (6) telur ayam sebagai bekal kehidupan, (7) payung sebagai perlindungan dan kesetiaan, (8) janur sebagai simbol perayaan dan keharmonisan antar umat beragama, serta (9) air sebagai media pembersihan diri. Berdasarkan temuan ini, penelitian ini menyarankan agar masyarakat terus melestarikan tradisi Mandi Safar sebagai bagian dari warisan budaya.
Copyrights © 2025