Penyimpangan seksual semakin sering ditemukan di lingkungan pesantren. Fenomena tersebut menimbulkan keprihatinan dari berbagai pihak, mengingat perilaku menyimpang ini berpotensi memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap pelakunya. Fenomena LGBT menjadi topik yang kontroversial dan menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat, termasuk di lingkungan pesantren. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan dalam penelitian terdiri dari enam santriwati dan satu santriwan. Dari tujuh informan yang diwawancarai, empat di antaranya menyatakan secara pribadi tidak mengidentifikasi diri sebagai LGBT, sedangkan tiga lainnya mengakui sebagai bagian dari komunitas LGBT. Lingkungan sekitar, termasuk teman, tetangga, tamu, maupun keluarga, menunjukkan penolakan terhadap keberadaan LGBT, karena dianggap sebagai perilaku menyimpang yang bertentangan dengan norma agama, terutama dalam konteks kehidupan berumah tangga.
Copyrights © 2025