Industri pembuatan tahu menghasilkan limbah cair pada proses produksinya. Limbah cair industri tahu mengandung zat organik tinggi serta padatan tersuspensi yang dapat berdampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat jika tidak dikelola dengan baik. Salah satu solusi untuk mengatasi pencemaran tersebut yaitu mengolah air limbah secara efektif dan efisien dengan sistem constructed wetland menggunakan metode fitoremediasi. Fitoremediasi dilakukan menggunakan tumbuhan melati air (Echinodorus palaefolius) dengan variasi waktu tinggal selama 3, 5, dan 7 hari. Hasil menunjukkan bahwa semakin lama waktu tinggal akan berpengaruh pada besarnya penurunan kadar polutan, pH dan suhu air limbah cair industri tahu. Pada parameter Biochemical Oxygen Demand (BOD) menunjukkan penurunan signifikan kadar polutan pada hari ke-3, 5, dan 7 sebesar 188 mg/L, 175 mg/L, dan 140 mg/L. Sedangkan untuk parameter Chemical Oxygen Demand (COD) pada hari ke-3, 5, dan 7 adalah 4.762 mg/L, 4.206 mg/L, dan 3.950 mg/L. Lalu untuk parameter Total Suspended Solids (TSS) pada hari ke-3, 5, dan 7 yaitu 376 mg/L, 178 mg/L, dan 144 mg/L. Efisiensi penyisihan kadar polutan tertinggi terjadi pada hari ke-7 dengan parameter BOD mencapai 30,35%; COD sebesar 65,26%; dan TSS sebanyak 75,59%. Kata kunci : limbah tahu, constructed wetland, melati air, BOD, COD, TSS
Copyrights © 2025