Transformasi sosial yang terjadi akibat urbanisasi, globalisasi, dan perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah lanskap masyarakat dari komunitas tradisional yang homogen menjadi masyarakat multikultural yang kompleks. Perubahan ini menuntut reinterpretasi terhadap hakikat dakwah Islam, yang semula dipraktikkan secara sederhana dalam konteks lokal-komunal pedesaan, menuju pendekatan yang lebih adaptif dan dialogis dalam konteks perkotaan yang pluralistik. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana hakikat dakwah berubah dalam menghadapi dinamika masyarakat multikultural, dan sejauh mana pendekatan dakwah tradisional masih relevan di era modern? Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi kasus pada dua wilayah: satu desa agraris di Jawa Tengah dan satu kawasan urban di Jakarta. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh agama dan masyarakat, serta analisis dokumen keislaman lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah di pedesaan masih berorientasi pada pewarisan nilai-nilai tradisional dan berlangsung secara interpersonal, sedangkan di perkotaan terjadi pergeseran dakwah menjadi lebih fungsional, berbasis media digital, dan sering kali bersifat segmentatif. Kontribusi penelitian ini terletak pada tawaran konseptual mengenai model dakwah transformatif yang mampu menjembatani pendekatan tradisional dan kontemporer, serta memberikan kerangka kerja baru bagi pengembangan strategi dakwah kontekstual di masyarakat multikultural.
Copyrights © 2025