Fase remaja disebut sebagai masa heteroseksual, dimana remaja mulai memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Remaja memiliki kecenderungan untuk mengalami passionate love karena memiliki keinginan untuk berafiliasi dengan orang lain. Passionate love merupakan emosi yang intens untuk berafiliasi atau bersatu dengan pasangan.Perlu adanya peran agama untuk mengontrol ekspresi cinta seseorang agar tidak berlebihan Dalam religiusitas, terkandung nilai dan norma yang dapat menjadi pendorong pengendalian sikap dan perilaku seseorang dalam mengekspresikan cintanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji adanya hubungan negatif signifikan antara religiusitas dengan passionate love. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Subjek dalam penelitian ini adalah 102 remaja akhir usia 18-22 tahun, sedang berpacaran atau terakhir kali berpacaran dalam kurun waktu 1 tahun, dan belum menikah. Data penelitian dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner secara online dengan alat ukur The Centrality of Religiosity Scale (CRS-15) dan Passionate Love Scale version B. Uji hipotesis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman’s rho dengan hasil koefisien korelasi (r) = -0.166 dan signifikansi (p) = 0.048 (p < 0.05. Hal ini menunjukan adanya hubungan negatif signifikan antara religiusitas dengan passionate love pada remaja akhir. Maka semakin tinggi religiusitas semakin rendah passionate love begitupun sebaliknya, semakin rendah religiusitas semakin tinggi passionate love.
Copyrights © 2025