Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi literasi dan inklusi keuangan di dua kabupaten tertinggal di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu Belu dan Sumba Timur. Menggunakan pendekatan mixed methods, penelitian ini menggabungkan data kuantitatif dari 300 responden dengan data kualitatif dari wawancara mendalam terhadap 20 informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun akses terhadap layanan keuangan formal mulai tersedia, tingkat literasi keuangan masyarakat masih tergolong rendah, yang berdampak pada minimnya pemanfaatan layanan keuangan secara bijak. Korelasi positif ditemukan antara tingkat literasi dan kepemilikan rekening bank (r = 0,62), yang mengindikasikan pentingnya edukasi keuangan berbasis lokal dan partisipatif. Hambatan utama yang diidentifikasi meliputi jarak geografis, keterbatasan infrastruktur digital, serta rendahnya kepercayaan terhadap lembaga keuangan formal. Penelitian ini merekomendasikan strategi yang terintegrasi mencakup edukasi kontekstual, penguatan infrastruktur, dan kolaborasi multipihak untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan yang berkelanjutan
Copyrights © 2025