Penelitian ini mengkaji transformasi peran pemimpin tradisional (ninik mamak) dalam menghadapi dinamika politik modern, khususnya dalam konteks pasca-Pilkada. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis, penelitian ini menggali pergeseran pola relasi antara elit politik, penyandang dana, dan masyarakat, serta dampaknya terhadap tata kelola pemerintahan. Pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi metode yang meliputi studi dokumentasi, wawancara mendalam dengan informan kunci yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya perubahan signifikan dalam lanskap politik lokal, di mana fenomena high cost democracy telah menciptakan ketergantungan elit politik terhadap penyandang dana, yang berimplikasi pada terbentuknya pola hubungan patron-klien. Para ninik mamak menghadapi tantangan dalam beradaptasi dengan modernisasi sambil mempertahankan nilai-nilai adat, tercermin dari memudarnya otoritas dalam pengelolaan harta pusaka, berkurangnya peran dalam pendidikan adat, dan menurunnya partisipasi dalam penyelesaian konflik sosial. Pergeseran ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti urbanisasi, perkembangan teknologi, sistem pendidikan formal, dan perubahan pola ekonomi yang lebih berorientasi individual. Penelitian ini mengungkap perlunya reformulasi peran yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan tuntutan modernitas untuk mempertahankan relevansi kepemimpinan tradisional dalam konteks politik kontemporer
Copyrights © 2025