Latar Belakang: Astigmatisme (mata silinder) adalah kondisi di mana kekuatan refraksi kornea atau lensa bervariasi karena perubahan bentuk permukaan sehingga cahaya jatuh di dua titik di depan retina. Kondisi ini menyebabkan penderita harus memutar mata sehingga efek lubang jarum dapat dilihat. Jika dibiarkan, astigmatisma bisa menjadi beban bagi penderita yang mengakibatkan penurunan kemandirian dan kualitas hidup. Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor genetik terhadap kejadian astigmatisme di Optik Reka Jaya Palembang Tahun 2024. Metode: Dalam Penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional dimana variabel independen yaitu faktor genetik dan variabel dependen yaitu astigmatisme. Dengan jumlah sampel 48.Penelitian dilaksanakan pada bulan juni-juli 2024. Analisa data mengunakan uji statistik chi-square. Hasil: Dari analisa data diperoleh dari 48 responden terdapat 33 responden (68,8%) mengalami astigmatisme dan 15 responden (31,3%) tidak mengalami astigmatisme. Diperoleh 31 responden (64,6%) mengalami astigmatisme berdasarkan faktor genetik sedangkan 17 responden (35,4%) bukan berdasarkan faktor genetik. Diperoleh 32 responden (66,7%) mengalami astigmatisme berdasarkan penggunaan gadget yang buruk sedangkan 16 responden (33,3%) penggunaan gadget yang baik. Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value 0,006 ada hubungan yang bermakna antara faktor genetik dengan kejadian astigmatisme. Saran:. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi peneliti yang akan datang terutama kejadian astigmatisme Kata Kunci : Astigmatisme, Faktor Genetik
Copyrights © 2025