Keluarga memiliki fungsi utama dalam membentuk kepribadian dan kesejahteraan anak, mencakup aspek edukatif, sosial, protektif, dan afektif. Namun, kondisi broken home—ketika struktur dan fungsi keluarga mengalami keretakan, baik akibat perceraian, konflik berkepanjangan, atau ketidakhadiran salah satu orang tua—dapat merusak sistem dukungan tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya broken home dan dampaknya terhadap perkembangan psikologis serta sosial anak. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif berbasis kajian literatur dari berbagai sumber akademik, termasuk jurnal dan buku ilmiah. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebab utama broken home meliputi tersumbatnya komunikasi dalam keluarga, sikap egois, tekanan ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan orang tua, kesibukan yang mengganggu interaksi, dan intervensi pihak ketiga. Dampak dari kondisi ini terlihat dalam bentuk perilaku agresif, penurunan prestasi akademik, kenakalan remaja, serta gangguan psikologis yang lebih dalam seperti depresi dan gangguan identitas. Temuan ini menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga stabilitas emosional dan moral anak. Rekomendasi ditujukan bagi para orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan untuk mencegah dan menangani kondisi broken home secara sistemik melalui pendidikan keluarga, konseling, dan intervensi sosial berbasis komunitas.
Copyrights © 2024